Saturday, March 27, 2021

Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila melalui Merdeka Belajar

Nadiem Anwar Makarim (Mendikbud RI)

Guru atau pendidik merupakan komponen Pendidikan yang berada digarda  depan, menjadi tonggak penggerak demi majunya Pendidikan, yang menjadi objek dan subjek strategi yang tidak akan keluar dari esensi Pendidikan, kualitas guru sebagai manusia tidak akan bisa tergantikan oleh teknologi, sebagaimana yang dinyatakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim, bahwa

Teknologi adalah alat bantu guru meningkatkan potensi mereka dan mencari guru-guru penggerak terbaik serta memastikan mereka bisa menjadi pemimpin-pemimpin pembelajaran dalam sekolah-sekolah diseluruh Indonesia.” Tuturnya

Konsep inilah yang diterapkan dalam kebijakan Merdeka Belajar dengan motonya yaitu, “Merdeka belajar, Guru penggerak” yang merupakan sebuah kebijakan baru dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (Kemendikbud RI) yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (Mendikbud RI) Kabinet Indonesia Maju, Nadiem Anwar Makarim. Bahkan, Kemendikbud yang pertama kalinya dalam sejarah Indonesia mengadakan penyaluran bantuan sosial berupa kuota internet gratis, Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk sekolah didaerah tertinggal, terdepan, terluar (3T) akan diperbesar anggarannya mulai tahun 2021, serta diadakannya beberapa program, salah satunya Kampus Mengajar yang diperuntukkan bagi para mahasiswa agar bisa ikut andil dalam kemajuan Pendidikan, khususnya diwilayah 3T.

Pendidikan dan Teknologi

Kebijakan ini semakin menonjolkan perannya disaat pandemi Covid-19 ini melanda seluruh dunia, khususnya Indonesia. Dalam kondisi seperti inilah sebuah strategi Pendidikan dengan adanya kebijakan Merdeka Belajar menjadi tuntutan bagi kita semua, khususnya para guru untuk beradaptasi dan cepat menyesuaikan diri dengan dunia teknologi. Disinilah peran guru yang kompleks terhadap peserta didiknya harus ditumbuhkan, tidak hanya sebagai pentransfer ilmu, namun guru disini lebih kearah memfasilitasi dan membimbing atau sebagai fasilitator, yang tetap bertujuan mewujudkan profil pelajar Pancasila, yaitu : Kritis, mandiri, kreatif, gotong-royong, kebhinekaan global dan berakhlak mulia. Demi mewujudkannya, maka tugas guru sebagai fasilitator ialah mendorong peserta didiknya untuk aktif (bertanya, mencoba, berkarya) baik dilingkup sekolah maupun di masyarakat.

Jadi, kita semua memiliki peran masing-masing dalam mewujudkan Pendidikan yang bisa terus maju, meski ditengah pandemi Covid-19. Jangan sampai pandemi ini menjadikan kita lemah, namun inilah saatnya kita keluar dari zona nyaman, menuju peraduan zaman, beradaptasi dan berkarya.

Keep Hamasah, Be Istiqomah

Saturday, March 20, 2021

Memperingati Milad UMY ke- 40 'Meraih Prestasi, Menjaga Tradisi'

 

Gedung Sportorium UMY

Belum lama ini sebuah universitas swasta yang eksistensinya didunia Pendidikan yang tidak kalah menonjol dibandingkan universitas swasta maupun negeri lainnya diranah nasional bahkan internasional. Sebuah universitas yang menjadikan dakwah sebagai arah gerak serta tradisinya, yang juga searah dengan menonjolnya prestasi diranah akademik maupun non akademiknya, ya, universitas tersebut ialah UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta).

Memperingati miladnya yang ke- 40, tepatnya pada tanggal 28 ferbruari 2021, UMY mulai memiliki tanggung jawab baru dalam memajukan keluaran dari pendidikannya yaitu dalam menghadapi era yang serba online, serta semakin majunya sains yang tidak searah bahkan berbanding terbalik dengan kemajuan umat Islam yang mulai terlihat kemerosotannya, karena pokok ajaran Islam yaitu Al-Qur’an dan As- Sunnah mulai dikesampingkan dari kehidupan umatnya. Padahal sudah jelas diterangkan dalam surat Al- Baqarah ayat 2, yang artinya :

Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. 2: 2)

Bahwa Kalamullah (Al-Qur’an) inilah sebaik-baik petunjuk bagi kita manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini, agar Islam tidak hanya dipandang sebagai ritual belaka, namun Islam dengan Al-Qur’an sebagai pedoman utamanya harus dijadikan landasan untuk berpikir dan bertindak. Sehingga, disinilah urgensi peran UMY dibutuhkan untuk menyokong dan mendorong para generasi penerus umat manusia dimasa mendatang agar menjadi keluaran yang searah dengan tujuan fitrahnya yaitu khalifah dibumi ini.

 

Interaksi Islam dan Sains


Oleh karena itu, diperlukan adanya kolaborasi yang lebih erat antara bidang keilmuan dan sains dengan bidang keagamaan, sehingga bisa menyokong umat Islam yang mampu beradaptasi dengan zaman, bahkan menjadi tonggak penggerak sekaligus pembaharu dizaman mendatang, karena kita umat Islam harus mewujudkan ajaran Islam yang digdaya, dengan memanfaatkan populasi yang banyak, namun bukan sebagai buih dilautan, namun kita harus bisa menjadi ombak dilaut yang selalu bergerak dan membuat perubahan.

Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila melalui Merdeka Belajar

Nadiem Anwar Makarim (Mendikbud RI) Guru atau pendidik merupakan komponen Pendidikan yang berada digarda   depan, menjadi tonggak penggerak ...